JAKARTA, Pelitaonline.ID – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan duka mendalam atas wafatnya prajurit yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon.
Korban, Praka Rico Pramudia (31), meninggal setelah menjalani perawatan akibat luka serius yang dideritanya dalam insiden penembakan artileri di Lebanon selatan.
Dalam pernyataan resminya melalui platform X, Sabtu, (25/4/2026), Guterres menyebut prajurit Indonesia tersebut wafat setelah posisi pasukan UNIFIL terkena serangan.
“Seorang penjaga perdamaian Indonesia meninggal dunia akibat luka-lukanya setelah sebuah posisi UNIFIL terkena tembakan artileri dari tank Pasukan Pertahanan Israel,” kata Guterres, merujuk temuan awal UNIFIL.
Guterres juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta mendoakan personel lain yang masih menjalani perawatan. Ia menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas dalam setiap konflik bersenjata.
Menurut catatan PBB, sedikitnya enam personel UNIFIL tewas dalam rangkaian insiden di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Hizbullah dan militer Israel. Guterres mendesak agar serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian segera dihentikan.
“Serangan terhadap penjaga perdamaian harus dihentikan,” ujarnya.
Sebelumnya, UNIFIL mengonfirmasi Praka Rico Pramudia meninggal dunia di sebuah rumah sakit di setelah mengalami luka parah akibat ledakan proyektil yang menghantam pangkalan tempatnya bertugas di wilayah Adchit Al Qusayr pada 29 Maret lalu.
Dalam pernyataannya, UNIFIL menyampaikan duka cita kepada keluarga korban, TNI, serta pemerintah dan rakyat Indonesia. Insiden tersebut juga menewaskan prajurit TNI lainnya, Praka Farizal Rhomadhon. Sementara dua prajurit lain, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka-luka.
Sehari berselang, ledakan lain yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan kembali menelan korban jiwa. Dua prajurit TNI, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka.
Rangkaian serangan ini menambah daftar korban dalam konflik yang terus memanas di Lebanon selatan, sekaligus memicu sorotan internasional terhadap keamanan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik. (Roby)









