Detik-Detik Presiden Mesir Ditembak Tentaranya Sendiri Usai Damai dengan Israel

oleh -1979 Dilihat
Company Logo

JAKARTA, Pelitaonline.ID – Upaya perdamaian dengan Israel pernah membawa konsekuensi politik yang sangat mahal bagi Anwar Sadat. Presiden Mesir itu tewas ditembak tentaranya sendiri dalam sebuah parade militer di Kairo pada 6 Oktober 1981, dua tahun setelah menandatangani perjanjian damai bersejarah dengan Israel.

Hari itu, pemerintah Mesir menggelar parade militer untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez dalam Perang Yom Kippur. Sadat hadir di tribun kehormatan bersama sejumlah pejabat tinggi negara dan tamu undangan.

Parade awalnya berlangsung normal. Iring-iringan kendaraan tempur dan pasukan militer melintas di depan tribun presiden di tengah pengamanan ketat. Namun situasi berubah mendadak ketika sebuah truk militer berhenti tepat di hadapan Sadat.

Seorang perwira turun dari kendaraan dan memberi hormat kepada presiden. Sadat berdiri untuk membalas penghormatan tersebut. Dalam hitungan detik, granat dilemparkan ke arah tribun utama, disusul rentetan tembakan senapan otomatis.

Suasana berubah kacau. Teriakan panik terdengar di seluruh area parade ketika peluru menghantam tribun kehormatan. Sadat roboh bersama sejumlah pejabat dan warga sipil yang berada di lokasi.

Mengutip laporan The New York Times, presiden Mesir itu sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi darurat. Namun nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia pada hari yang sama akibat luka tembak yang dideritanya.

Pelaku utama penyerangan diketahui bernama Khalid Islambouli, seorang letnan yang tergabung dalam kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok itu menentang keras kebijakan Sadat yang membuka hubungan damai dengan Israel.

Company Logo

Sejak berdirinya Israel pada 1948, Mesir dikenal sebagai salah satu negara Arab yang paling aktif menentang Israel. Kedua negara beberapa kali terlibat perang terbuka, termasuk dalam Perang Yom Kippur 1973.

Namun setelah perang tersebut, arah kebijakan Sadat berubah. Dalam buku Anwar Sadat: Visionary Who Dared (2013), disebutkan bahwa Sadat mulai meyakini konflik berkepanjangan dengan Israel hanya akan memperburuk kondisi ekonomi dan politik Mesir.

Puncaknya terjadi pada 26 Maret 1979 ketika Sadat menandatangani Perjanjian Camp David bersama Perdana Menteri Israel Menachem Begin dengan mediasi Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter.

Kesepakatan itu menjadikan Mesir sebagai negara Arab pertama yang secara resmi berdamai dengan Israel. Dunia internasional menyambutnya sebagai tonggak penting perdamaian Timur Tengah. Akan tetapi, di dalam negeri Mesir, keputusan tersebut memicu kemarahan besar.

Kelompok garis keras, sebagian unsur militer, hingga tokoh agama menilai Sadat telah mengkhianati solidaritas Arab dan perjuangan Palestina. Penolakan itu kemudian berkembang menjadi gerakan radikal yang merencanakan pembunuhan terhadap presiden.

Islambouli ditangkap tidak lama setelah serangan terjadi. Ia kemudian diadili oleh pemerintah Mesir dan dijatuhi hukuman mati. Eksekusinya dilakukan pada 15 April 1982.

Pembunuhan Anwar Sadat hingga kini dikenang sebagai salah satu tragedi politik paling dramatis di Timur Tengah sebuah peristiwa yang memperlihatkan bagaimana langkah perdamaian di kawasan konflik dapat memicu perlawanan mematikan dari dalam negeri sendiri. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.