JEMBER, Pelitaonline.ID – Izzul Ashlah tidak membangun kepemimpinan dengan suara lantang. Ia memilih jalan yang lebih sunyi yakni hadir, bekerja, dan menjaga kesinambungan. Di tengah dinamika organisasi kepemudaan yang kerap ditandai oleh pergantian cepat serta simbol-simbol formal, Izzul justru menempatkan kehadiran sebagai fondasi utama.
Kepercayaan yang mengantarkannya memimpin Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jember selama dua periode, 2021-2025 dan 2025-2029, lahir dari proses panjang. Ia tumbuh bersama organisasi, menyatu dengan kader, dan bergerak tanpa jarak yang kaku antara posisi struktural dan kerja lapangan.
Di luar Ansor, Izzul dikenal sebagai akademisi. Ia menjabat sebagai dekan di salah satu fakultas Universitas Islam Jember (UIJ). Namun, di lingkungan organisasi, identitas akademik itu tidak menjadi penanda utama. Ia lebih sering hadir sebagai sesama kader: berbicara lugas, bersikap sederhana, dan menghindari protokoler yang berlebihan.
“Organisasi itu bukan soal atribut, tetapi yang utama adalah kehadiran,” ujar Izzul.
Bagi Izzul, eksistensi Ansor tidak cukup ditandai oleh spanduk atau seragam. Organisasi harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Gagasan itu ia pandang sebagai investasi jangka panjang.
“Apa yang kita tanam hari ini, suatu ketika, akan dipetik oleh anak cucu kita kelak.”katanya.
Jalan khidmah Izzul tidak dapat dilepaskan dari latar keluarganya. Ia merupakan putra H. Saiful Bahri, tokoh Ansor Jember periode awal yang dikenal dengan sapaan Jibul. Kini, sang ayah mengemban amanah sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember.
Dua generasi itu menempati peran berbeda, tetapi berada dalam satu garis pengabdian. Di internal NU Jember, keduanya kerap dipandang sebagai figur yang saling melengkapi: pengalaman dan energi muda, tradisi dan pembaruan, dalam menggerakkan jam’iyah melalui jalur keagamaan, sosial, dan kebangsaan.
Namun, Izzul tidak menjadikan latar keluarga sebagai sandaran utama. Ia membangun legitimasi melalui kerja yang konsisten dan kedekatan dengan kader. Dalam keseharian, ia lebih banyak memastikan kebutuhan anggota terpenuhi ketimbang menonjolkan peran personal.
Di tengah peran gandanya sebagai akademisi dan organisator, Izzul menjaga dua nilai yang ia anggap tak terpisahkan: keagamaan dan nasionalisme. Ansor baginya adalah ruang untuk merawat keduanya secara seimbang, agama yang membumi dan cinta tanah air yang tidak selalu harus dinyatakan lewat slogan.
Rekan-rekannya mengenal Izzul sebagai pemimpin yang lebih banyak mendengar. Ia tegas ketika diperlukan, tetapi memilih pendekatan persuasif dalam membina kader. Tidak tergesa-gesa, tidak pula reaktif.
Dua periode kepemimpinannya bukan sekadar catatan waktu. Ia menjadi penanda kesinambungan arah. Di tengah perubahan sosial dan tantangan generasi, GP Ansor Jember memilih bertahan pada garis khidmah: berakar pada nilai dan tetap berpijak pada masyarakat.
Dalam kepemimpinan yang tenang itu, Izzul Ashlah menunjukkan bahwa memimpin tidak selalu berarti berada di barisan terdepan. Terkadang, kepemimpinan justru bekerja paling efektif ketika ia memastikan barisan tetap berjalan. (Mam/Wahyu)










