JEMBER, Pelitaonline.ID – Hujan rintik yang mengguyur Dusun Rowo Tengu, Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro, Rabu malam (27/8/2025), tak menyurutkan langkah ribuan jamaah dari berbagai penjuru daerah.
Bukan hanya dari wilayah Kabupaten Jember saja Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, bahkan sejauh Trenggalek datang dengan satu tujuan menghadiri peresmian Masjid An-Nabawi Sidomulyo.
Suasana desa yang biasanya tenang malam itu berubah semarak, jalan menuju lokasi dipadati warga yang ingin melihat langsung pengajian akbar bersama Gus H. Muhammad Iqdam Kholid, ulama kharismatik dari Majelis Ta’lim Sabilu Taubah, Blitar.
“Ini momen yang luar biasa. Semoga penuh barokah,” ucap Imam Safi’i, ketua panitia, sambil menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung, dari pejabat pemerintahan, aparat keamanan, hingga warga desa yang bahu-membahu menyukseskan acara.
Kemeriahan makin terasa ketika Kepala Desa Sidomulyo, Wasiso, naik ke panggung, dengan santai ia membacakan pantun yang membuat jamaah tersenyum hangat di tengah udara malam yang lembab.
“Tuku jamur ditambah kanji, ayo dolor kabeh podo ngaji, mugo-mugo ditambahi barokah,” lantunnya, disambut tawa riang hadirin.
Acara benar-benar terasa ketika Gus Iqdam mulai memberikan tausiyah. Dengan suara lantang penuh kharisma, beliau mengajak jamaah untuk meneguhkan niat beribadah, memperbanyak dzikir, dan merawat masjid sebagai pusat persaudaraan umat.
Seperti biasanya, Gus Iqdam juga membagikan hadiah berupa sarung dan uang kepada jamaah yang mampu menjawab pertanyaan seputar ilmu agama maupun kebangsaan.
Menjelang tengah malam, suasana makin khidmat dengan lantunan sholawat menggema, membuat hati setiap jamaah bergetar. Seolah peresmian Masjid An-Nabawi bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perjalanan spiritual baru bagi warga Sidomulyo.
“Semoga masjid ini menjadi tempat yang makmur, teduh, dan penuh rahmat Allah,” doa Gus Iqdam menutup acara. Jamaah pun pulang dengan senyum, membawa rasa damai dan keyakinan bahwa malam itu mereka pulang dengan tambahan barokah.
Pewarta : Rado
Editor : Wahyudiono









