Perahu Karet Jadi Solusi Darurat, Warga Jubung Tetap Menyeberang Usai Jembatan Roboh

oleh -886 Dilihat
Keterangan foto : Istimewa
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Belum pulih dari dampak putusnya akses penghubung akibat jembatan roboh, Pemerintah Desa Jubung memilih bergerak cepat.

Di tengah keterbatasan, langkah taktis diambil agar aktivitas warga tetap berjalan, terutama bagi pelajar yang harus berangkat ke sekolah setiap hari.

Solusi yang diambil pun tak biasa. Pemerintah desa menghadirkan perahu karet sebagai sarana penyeberangan sementara bagi warga.

Kepala Desa Jubung Bhisma Perdana mengatakan, kebijakan tersebut merupakan respons darurat sembari menunggu pembangunan kembali jembatan penghubung yang ambruk diterjang banjir.

“Sambil menunggu pembangunan jembatan terlaksana, langkah ini kami lakukan agar aktivitas warga tetap berjalan,” ujarnya.

Diketahui, jembatan gantung di kawasan tersebut roboh akibat banjir dengan arus sungai yang deras.

Kerusakan ini berdampak signifikan bagi warga Dusun Darungan karena jembatan tersebut menjadi akses vital penghubung ke tiga kecamatan, yakni Ajung, Sukorambi, dan Rambipuji.

Company Logo

Terputusnya jalur tersebut membuat mobilitas warga tersendat. Aktivitas ekonomi, akses pendidikan, hingga kebutuhan harian warga ikut terganggu.

Dalam kondisi darurat, warga sempat memanfaatkan rakit bambu untuk menyeberang. Namun cara tersebut dinilai berisiko tinggi, terutama saat debit air meningkat.

“Keselamatan warga menjadi pertimbangan utama,” tegas Bhisma.

Merespons situasi itu, Pemerintah Desa Jubung bersama komunitas lokal Jubung Peduli langsung berkolaborasi. Semangat gotong royong pun menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan solusi yang lebih aman.

Penggunaan perahu karet dipilih sebagai alternatif penyeberangan. Meski sederhana, operasionalnya dilakukan dengan prosedur ketat. Tiga petugas disiagakan di lokasi untuk mengoperasikan perahu sekaligus memastikan warga mematuhi standar keselamatan.

Para petugas tersebut juga mendapatkan honor dari pemerintah desa sebagai bagian dari layanan publik resmi yang dikelola secara terstruktur.

Langkah ini dinilai sebagai pendekatan adaptif dalam menghadapi kondisi geografis dan cuaca yang sulit diprediksi. Pemerintah desa tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan solusi fleksibel yang lebih cepat diterapkan dalam kondisi darurat.

Di sisi lain, penguatan kapasitas sumber daya manusia juga mulai disiapkan. Wakil Ketua BPD Desa Jubung Dimas Krisdianto menggandeng komunitas pecinta alam MAPULUS untuk memberikan pelatihan standar operasional prosedur (SOP) penggunaan perahu karet.

“Kolaborasi ini untuk memastikan penggunaan perahu dilakukan secara profesional dan aman,” jelasnya.

Tak hanya itu, Dimas melihat potensi jangka panjang dari inisiatif tersebut. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, perahu karet tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga bisa dikembangkan sebagai daya tarik wisata desa.

“Agar tidak hanya menjadi akses penghubung, ke depan ini bisa menjadi embrio wisata di Desa Jubung,” ujarnya.

Program ini juga menjadi bagian dari penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai sarana edukasi dan pelatihan khusus bagi masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat.

Di tengah keterbatasan, Desa Jubung menunjukkan ketangguhan dengan cara berbeda. Bukan hanya mengandalkan beton dan baja, tetapi juga keberanian berinovasi demi memastikan warganya tetap terhubung dan kehidupan terus berjalan. (Mam)

No More Posts Available.

No more pages to load.