JEMBER, Pelitaonline.ID – Suasana haru menyelimuti Aula GTK di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Selasa (21/4/2026). Di antara deretan toga hitam yang berbaris rapi, satu sosok berdiri dengan tatapan teduh. Moh. Erwan, 32, resmi menyandang gelar doktor sebuah capaian yang lahir dari perjalanan panjang penuh keterbatasan.
Erwan lahir pada 22 Desember 1993 di Kepulauan Gili Raja, Kabupaten Sumenep. Wilayah kepulauan itu dikenal dengan akses pendidikan yang terbatas dan tekanan ekonomi yang kerap menjadi hambatan. Namun, dari kondisi itulah tekadnya tumbuh.
Pendidikan dasar ia tempuh di SDN 1 Banbaru Giligenting, lalu melanjutkan ke MTs Arief Jate Sumenep dan MA At-Taufiqiyah Bluto. Sejak remaja, ia dikenal tekun belajar di tengah keterbatasan. Meski demikian, selepas lulus madrasah aliyah, langkahnya sempat terhenti akibat kendala biaya kuliah.
Titik balik terjadi saat ia mendapat dorongan dari seorang kyai. Pada 2011, dengan bekal Rp300 ribu pemberian terakhir dari almarhumah ibunya Erwan merantau ke Jember untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Jember.
Hidup di perantauan bukan perkara mudah. Untuk bertahan, ia mengabdi di Madrasah Swasta At-Taqwa Suren, Ledokombo. Siang hari kuliah, malam hari mengajar. Di sela waktu, ia berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ritme keras itu dijalani tanpa keluhan.
Empat tahun kemudian, ia meraih gelar sarjana pada 2015. Perjalanan akademiknya berlanjut ke jenjang magister di IAIN Jember dan lulus pada 2021. Tak berhenti di situ, ia kembali mengambil langkah besar dengan melanjutkan studi doktoral di UIN KHAS Jember.
Keputusan tersebut sarat risiko. Waktu, tenaga, hingga tanggung jawab keluarga menjadi taruhan. Namun, Erwan tetap melangkah. Baginya, pendidikan adalah jalan sunyi yang harus ditempuh, bukan sekadar demi diri sendiri, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral.
Selama menempuh studi, ia aktif berorganisasi. Mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi, Badan Eksekutif Mahasiswa, hingga organisasi eksternal seperti PMII, IPNU, dan GP Ansor. Saat ini, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Ansor, Wakasatkorcab Jember, serta Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Silo.
Di tengah kesibukan tersebut, Erwan juga menjalani peran sebagai kepala keluarga. Ia telah menikah dan dikaruniai dua anak. Kehidupan pribadi dan perjuangan akademik berjalan beriringan, saling menguatkan.
Gelar doktor yang kini diraihnya bukan sekadar simbol akademik. Lebih dari itu, menjadi akumulasi doa seorang ibu, nasihat guru, kerja keras tanpa henti, serta keberanian menembus keterbatasan.
Kisah Moh. Erwan menegaskan bahwa keterbatasan bukanlah akhir. Dari pulau kecil di Gili Raja, langkahnya kini menjangkau ruang intelektual yang lebih luas.
Di tengah keraguan banyak anak muda melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi, Erwan menjadi bukti bahwa peluang selalu ada bagi mereka yang berani melangkah meski dengan bekal yang nyaris tak ada. (Mam)











