Lampor dan Andong Pocong Legenda Kelam yang Menolak Terkubur

oleh -597 Dilihat
Keterangan Foto : Ilustrasi
Company Logo

Malam di desa pada dekade 1990-an selalu jatuh dengan sunyi yang pekat. Listrik belum merata, jalanan hanya diterangi rembulan dan lampu minyak.

Dalam kegelapan itu, kabar tentang makhluk berjubah hitam bernama Lampor menyebar dari mulut ke mulut, membuat bulu kuduk warga Mojokerto berdiri setiap kali angin malam berhembus.

Warga menyebut Lampor sebagai rombongan gaib yang berjalan berderap, suaranya mirip pasukan militer, bersamaan dengan itu, hembusan dingin menusuk dan pintu-pintu rumah diketuk keras dari luar, siapa pun yang nekat membuka pintu, nyawanya bakal menjadi tumbal.

“Saya melihat sendiri bayangan hitam berlarian, lalu rombongan hitam lewat persis depan rumah,” kenang Diah (38), warga yang saat itu masih duduk di bangku SD.

Ketakutan menjelma nyata. Dalam sepekan, kabarnya bisa ada tiga hingga empat kematian mendadak di rumah yang dilintasi Lampor. Sejak Magrib, desa seakan mati. Anak-anak digiring masuk, pintu ditutup rapat, dan suara jangkrik jadi satu-satunya teman malam.

Untuk memutus teror, para sesepuh menggelar ritual bersih desa, tumpeng, larung sesaji, dan doa kejawen di persimpangan jalan. Setelah itu, Lampor tak lagi menampakkan diri.

Awal 2000-an, saat tragedi Lumpur Lapindo mengguncang Sidoarjo dan sekitarnya, muncul horor baru andong pocong.

Company Logo

Kisahnya menyebut sebuah delman berjalan tanpa kusir. Kudanya ada, kerincingan giring-giring jelas terdengar, tapi di kursi penumpang duduk empat pocong mengenaskan, wajah hancur, kain kafan berlumuran darah.

“Suara tapak kuda dan loncengnya jelas, pocongnya saling berhadapan, menyeramkan sekali,” tutur Diah dengan suara pelan.

Warga percaya, andong pocong adalah pertanda kematian atau musibah bagi rumah yang dilaluinya. Teror pun kembali menjerat desa, seakan Lampor bertransformasi dalam wujud baru.

Pada era 1990-an, tradisi kejawen masih tegak berdiri. Sesaji di pohon besar, mandi keris, kopi pahit dan bunga tujuh rupa di sudut rumah, hingga perhitungan weton sebelum bepergian adalah bagian dari keseharian. Namun, generasi baru mulai meninggalkannya.

“Orang tua saya tak mau anak-anaknya meneruskan tradisi itu. Tapi malam di desa waktu itu sangat angker, gelap total. Lewat pematang sawah saja bulu kuduk berdiri,” kata Diah.

Hingga kini, tak ada penjelasan pasti: apakah Lampor dan andong pocong benar-benar makhluk gaib atau sekadar efek psikologis warga yang hidup dalam suasana mencekam. Namun bagi saksi mata, peristiwa itu terlalu nyata untuk disebut dongeng belaka.

“Bayangan hitam itu bukan ilusi, suaranya jelas. Ketukan pintu itu nyata,” tegas Diah menutup ceritanya.

Legenda Lampor dan andong pocong mungkin hanya tinggal cerita, tetapi jejaknya masih membekas di ingatan warga Mojokerto sebuah horor yang menolak terkubur waktu.

Penulis : M.Badril Umam

No More Posts Available.

No more pages to load.