JEMBER, Pelitaonline.ID – Setiap kali musim hajatan tiba, mulai dari pesta pernikahan hingga khitanan, sebagian masyarakat Jember bukan hanya sibuk menyiapkan tenda dan undangan.
Ada satu persoalan klasik yang kerap muncul, gas elpiji 3 kilogram atau yang akrab disebut “melon” tiba-tiba terasa sulit dicari di pangkalan. Fenomena ini kembali diingatkan Ketua DPC Hiswanamigas Area Besuki, Ikbal Wilda Fardana.
Politisi yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jember itu menegaskan, pola kelangkaan semu elpiji subsidi hampir terjadi setiap tahun ketika aktivitas hajatan masyarakat meningkat.
“Setiap kali musim hajatan, permintaan gas melon di pangkalan naik tajam. Distribusi yang seharusnya cukup untuk kebutuhan harian jadi cepat habis. Inilah yang sering menimbulkan kesan kelangkaan,” ungkap Ikbal saat ditemui di Gedung DPRD Jember, Senin (22/9/2025).
Ikbal memastikan, secara kuota pasokan elpiji subsidi di Kabupaten Jember sebenarnya masih aman. Namun, masalah muncul pada pola konsumsi Elpiji 3 kg sejatinya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro, bukan untuk kebutuhan hajatan besar yang biasanya menyedot banyak tabung dalam waktu singkat.
“Subsidi ini bukan untuk hajatan, apalagi usaha katering besar. Masyarakat mampu sebaiknya memakai elpiji nonsubsidi, supaya distribusi untuk warga miskin tidak terganggu,” tegasnya.
Pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 kg di Jember sebesar Rp18.000 per tabung. Namun di lapangan, praktik penjualan di tingkat pengecer sulit dikendalikan, apalagi ketika stok di pangkalan cepat habis.
Hiswanamigas bersama Pertamina dan pemerintah daerah mengaku terus berkoordinasi untuk menekan potensi penyimpangan distribusi. Namun tanpa kesadaran masyarakat untuk menggunakan elpiji sesuai peruntukan, persoalan kelangkaan musiman ini sulit dihindari.
Ikbal berharap, masyarakat bisa lebih bijak dalam menggunakan elpiji subsidi, terutama saat hajatan berlangsung. “Kalau acara besar, silakan pakai elpiji nonsubsidi. Jangan sampai kelompok miskin yang benar-benar bergantung pada gas melon justru kesulitan,” Tandasnya.
Pewarta : Zainal Arifin
Editor : Wahyudiono









