Guru Honorer di Jember Diduga Pukul Murid, Wali Murid Resah

oleh -739 Dilihat
Keterangan Foto : Habibi Guru Honorer yang melakukan dugaan pemukulan pada salah satu anak didiknya saat dikonfirmasi Pelitaonline.ID (Zainal Arifin)
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Dugaan pemukulan terhadap seorang murid oleh guru honorer SDN 1 Grenden, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, memicu keresahan wali murid hingga menjadi perbincangan. Korban disebut sempat muntah setelah peristiwa tersebut.

Guru honorer tersebut bernama Faruk Zaini Habibi, yang akrab disapa Habibi. Ia mengakui adanya insiden itu dan menuturkan bahwa kejadian itu bermula setelah jam istirahat pertama pada Kamis (25/9/2025), ketika dirinya masuk ke kelas 4B untuk mengajar.

“Sesaat kemudian, saya melihat pintu kelas tertutup keras “Brak”. Setelah saya tanya, anak-anak mengatakan yang menutup pintu adalah G dari kelas 5A,” ujarnya, Senin (29/9/2025).

Tak berselang lama Habibi keluar dan memanggil G yang lewat di depan kelas, saat dia tanya awalnya G mengelak dan menyebut temennya berinisial D. Setelah D datang, G mengaku menutup pintu.

“Hanya saja, G berdalih pintu itu dikiran pintu kamar mandi, padahal pintu kelas,” terangnya.

Menurut Habibi, murid berinisial G memang dikenal kerap berbuat nakal. Dua bulan sebelumnya, seorang wali murid kelas 4B pernah mengadu bahwa anaknya kesakitan akibat ulah G.

Habibi melanjutkan ceritanya, setelah kejadian orang tua perempuan (Ibunya) G mendatangi sekolah. Ia menangis saat mendengar kabar putranya dipukul. “Awalnya Ibunya menerima setelah saya jelaskan, tetapi situasi memanas setelah ada pihak lain yang memprovokasi, sehingga ayah G pun ikut marah.” paparnya.

Company Logo

Sementara itu, Kepala SDN 1 Grenden, Sriyati dihubungi Via Seluler, membenarkan adanya dugaan pemukulan tersebut. Ia mengatakan, pihak sekolah sudah melakukan pembinaan terhadap guru bersangkutan.

“Masalah sudah kami selesaikan secara kekeluargaan, dan guru yang bersangkutan sudah meminta maaf,” ujarnya.

Tak hanya itu, imbuh Sriyanti,.pihak sekolah juga menyarankan orang tua G memeriksakan anaknya ke dokter atau puskesmas. Bahkan, turut memberikan uang sebagai biaya pemeriksaan medis.

Meski demikian, sejumlah wali murid tetap merasa resah. Seperti yang dikatakan salah satu wali murid dari SDN 01 Grenden yang tak mau disebut namanya. Ia mengatakan, khawatir hal yang serupa akan terjadi pada anaknya.

“Kami khawatir kejadian serupa bisa menimpa anak kami. Apalagi peristiwa ini sempat ramai dibicarakan di sekolah,” katanya

Kasus ini menunjukkan betapa rentannya hubungan emosional antara guru, murid, dan orang tua. Bagi sebagian guru, disiplin sering dipahami sebagai tindakan tegas. Namun bagi orang tua, setiap bentuk fisik yang menyakiti anak dipandang sebagai kekerasan.

Di sinilah dilema pendidikan muncul, bagaimana menjaga kewibawaan guru tanpa melukai psikologis anak dan bagaimana menanamkan kedisiplinan tanpa meninggalkan trauma.

Pewarta : Zainal Arifin
Editor : Wahyudiono

No More Posts Available.

No more pages to load.