JEMBER, Pelitaonline.ID – Pantai Paseban yang biasanya menjadi daya tarik wisata, kini terusik oleh aroma getir penebangan kayu secara ilegal. Puluhan pohon waru di kawasan wisata itu mendadak raib, ditebang oleh orang-orang yang hingga kini belum diketahui identitasnya dengan jelas.
Kasus ini mencuat setelah Pemerintah Desa Paseban mengadukan adanya aktivitas penebangan tanpa izin kepada pihak kepolisian. Penebangan itu diketahui telah terjadi dua kali, masing-masing pada bulan September dan Oktober. Dari laporan warga, puluhan batang kayu waru ditebang oleh pihak yang diduga suruhan warga setempat berinisial IR.
Menanggapi pengaduan tersebut, Kapolsek Kencong AKP Sunarto langsung turun ke lokasi. Ia menegaskan, pihaknya tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran laporan masyarakat dan menelusuri pihak-pihak yang terlibat.
“Kami sudah ada di lapangan, sesuai dengan pengaduan dari masyarakat tentang penebangan beberapa kayu di wilayah Pantai Paseban. Saat ini kami masih menyelidiki, meskipun laporan resmi dari pihak desa belum masuk,” ujar Sunarto, Senin (20/10/2025).
Meski laporan tertulis dari pemerintah desa belum diterima, langkah cepat Polsek Kencong menunjukkan keseriusan aparat dalam menindak praktik perusakan lingkungan yang berpotensi merugikan aset publik. Sunarto juga menegaskan, pihaknya berencana memanggil dan mengklarifikasi beberapa orang yang disebut dalam aduan warga.
“Rencana itu ada, tetapi kami tetap akan menempuhnya sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” tegasnya.
Dari keterangan Kepala Dusun Paseban, Kasiono para penebang mengaku hanya sebagai pembeli atau pedagang kayu. Namun, ketika ditanya mengenai alamat atau identitas lengkap mereka, Kasun mengaku tidak mengetahui secara pasti.
Sejauh ini, jumlah pohon yang ditebang masih dalam proses pendataan. Berdasarkan perkiraan awal aparat desa, nilai kerugian akibat penebangan liar ini mencapai Rp5 hingga Rp6 juta, namun angka tersebut masih akan dihitung ulang oleh pihak kepolisian.
Kasus penebangan liar di kawasan wisata ini menambah daftar panjang persoalan pengelolaan sumber daya alam di tingkat lokal. Bagi warga Paseban, hilangnya deretan pohon waru bukan sekadar kehilangan kayu, melainkan juga kehilangan peneduh, pelindung jalan, dan bagian dari keindahan alam yang menjadi identitas pantai mereka.
Kini, masyarakat menanti langkah tegas aparat penegak hukum untuk memastikan kawasan wisata Paseban tetap lestari dan tak lagi kehilangan jati dirinya.
Pewarta : Zainal Arifin
Editor : Wahyudiono









