BMKG Ungkap Penyebab Fenomena Bediding Landa Jawa Timur, Diperkirakan Berlangsung hingga September 2026

oleh -1069 Dilihat
Thermometer in snow with sun backlight, show low temperatures at celsius or farenheit. Winter thermo meter wide banner, panorama photo.
Company Logo

Jember,Pelitaonline.id – Fenomena udara dingin atau bediding kembali dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur. Suhu udara yang terasa menusuk pada malam hingga dini hari dipastikan bukan fenomena yang tidak biasa, melainkan siklus alam yang rutin terjadi setiap musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung hingga September 2026.

BMKG: Bediding Dipicu Monsun Australia

Prakirawan BMKG, Linda Fitrotul, menjelaskan bahwa fenomena bediding terjadi akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia selama musim kemarau.

“Fenomena suhu dingin pada Juli, Agustus hingga September merupakan hal yang wajar. Saat ini kita berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).

Selain itu, minimnya tutupan awan pada musim kemarau membuat panas matahari yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara turun cukup drastis hingga dini hari.

Mengapa Malang Terasa Lebih Dingin?

BMKG menyebut fenomena bediding terjadi hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Namun, udara dingin terasa lebih ekstrem di kawasan Malang dan sekitarnya karena faktor geografis.

Wilayah Malang berada pada ketinggian sekitar 400–600 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan Kota Batu memiliki elevasi lebih dari 700 hingga 1.700 mdpl.

Company Logo

Semakin tinggi suatu wilayah, semakin rendah suhu udaranya. Kondisi tersebut membuat masyarakat di kawasan pegunungan merasakan hawa dingin yang lebih menusuk dibanding daerah pesisir atau dataran rendah.

No More Posts Available.

No more pages to load.