JEMBER, Pelitaonline.ID – Di usia 14 tahun, Ahmad Najibullah Mazamy belum sepenuhnya memahami ke mana hidup akan membawanya. Namun satu hal mulai ia mengerti jalan besar kerap lahir dari langkah-langkah kecil yang dipaksa untuk tetap berjalan.
Azam begitu ia akrab disapa lahir dan tumbuh di Dusun Gumuk Gebang, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Masa kecilnya tak jauh berbeda dari anak-anak kampung lainnya. Ia bersekolah di MI Salafiyah Syafi’iyah Gumuk Limo, menjalani hari-hari sebagai murid biasa.
Tak ada piala yang dipajang di ruang tamu. Tak ada gelar juara yang diumumkan di upacara sekolah. Namanya jarang disebut sebagai siswa berprestasi. Ia hanyalah anak biasa. Barangkali justru di situlah kisah ini menemukan maknanya.
Selepas lulus, kedua orang tuanya memutuskan mengirim Azam menimba ilmu di Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, di bawah asuhan KH Sadid Jauhari yang akrab disapa Abah Sadid. Keputusan itu menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Hari-hari pertama di pesantren bukanlah kisah heroik. Azam kerap menangis. Ia tak kerasan. Lingkungan yang serba teratur, disiplin yang ketat, serta jadwal kegiatan yang nyaris tanpa jeda terasa kontras dengan kebebasan yang ia nikmati di rumah. Jika di kampung ia bisa bermain sesuka hati, di pesantren setiap waktu memiliki aturan.
Di balik dinding asrama, air matanya kerap jatuh diam-diam. Namun ada sesuatu yang membuatnya bertahan. Bukan bakat luar biasa. Bukan pula kecerdasan yang menonjol. Melainkan satu sikap sederhana yang kelak menjadi fondasi hidupnya: memaksakan diri untuk tidak menyerah.
Hari berganti minggu. Minggu menjadi bulan. Tangis perlahan mereda. Rasa asing berubah menjadi kebiasaan. Disiplin yang dulu terasa mengekang mulai ia pahami sebagai latihan. Azam menemukan ritme hidupnya.
Ia bukan santri yang paling cepat memahami pelajaran. Ia tak selalu menjadi yang pertama menjawab pertanyaan. Namun ia tekun. Ia duduk lebih lama ketika yang lain beristirahat. Ia mengulang pelajaran saat teman-temannya terlelap. Dalam diam, ia membangun dirinya, sedikit demi sedikit.Istiqamah kata yang kerap terdengar sederhana menjadi napas kesehariannya.
Kesempatan itu datang ketika ia dipercaya mengikuti lomba membaca kitab. Bagi sebagian santri, lomba adalah panggung unjuk kemampuan. Bagi Azam, itu adalah ujian atas perjalanan panjangnya melawan diri sendiri.
Dengan suara yang sempat bergetar dan tangan yang tak sepenuhnya tenang, ia mulai membaca. Setiap baris ia lafalkan dengan hati-hati. Setiap makna ia coba pahami dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mengejar kesempurnaan. Ia hanya berusaha tidak mengkhianati proses yang telah ia jalani. Hasilnya mengejutkan banyak pihak termasuk dirinya sendiri. Azam meraih juara tiga dengan nilai nyaris sempurna.
Namun bukan podium yang membuat kisah ini istimewa. Melainkan perjalanan menuju podium itu. Dari anak yang nyaris tak pernah mencatat prestasi di bangku sekolah dasar, dari santri yang dulu sering menangis karena tak betah, kini ia berdiri sebagai bukti bahwa ketekunan mampu mengalahkan keraguan. Ia membuktikan bahwa kecerdasan bisa diasah, tetapi keteguhan harus dipilih setiap hari.
Kini Azam duduk di bangku kelas VIII Tsanawiyah setingkat SMP. Perjalanannya masih panjang. Ia belum sampai ke mana-mana. Namun ia telah melewati satu fase penting: menaklukkan dirinya sendiri.
Kisah Ahmad Najibullah Mazamy menjadi pengingat bahwa tidak semua anak lahir dengan cahaya yang langsung menyala terang. Ada yang cahayanya muncul perlahan, dipantik oleh air mata, ditempa oleh disiplin, dan dijaga oleh istiqamah.
Di pesantren yang dulu terasa asing itu, Azam belajar satu pelajaran besar: menjadi luar biasa tidak selalu berarti menjadi yang paling pintar. Terkadang, cukup dengan menjadi yang paling konsisten.
Dan mungkin, dari dusun kecil di Rambipuji itu, sedang tumbuh seorang santri yang kelak menyalakan cahaya bagi banyak orang bukan karena ia paling hebat, melainkan karena ia tak pernah berhenti berusaha.









