JEMBER, Pelitaonline.ID – Baru sehari kegiatan Deklarasi dan Pengukuhan PPTS se-Kabupaten Jember di Kecamatan Ambulu, Dugaan pelanggaran penjualan pupuk bersubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) kembali mencuat.
Kali ini dugaan tersebut terjadi di Kios Pupuk Bersubsidi “Cahaya Tani” milik Nanang yang berlokasi di Dusun Wringinsari, Desa Padomasan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember.
Seorang petani asal Dusun Wringinsari, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan pada tahun 2024 pupuk Urea dan Phonska dijual seharga Rp.115 persak dan di tahun 2025 Pupuk Urea maupun Phonska di jual Rp.120 ribu Rupiah.
“Kira-kira tanggal 4 Oktober 2025 saya beli harga pupuk bersubsidi naik lagi, untuk Urea dan Phonska Rp.120 ribu rupiah persak. Sebelumnya, di tahun 2024 persak dijual dengan harga Rp115 ribu,” ujarnya, Kamis (9/10/2025) malam.
Petani itu mengaku terkejut dengan kenaikan harga tersebut. Saat ditanya alasannya, pemilik kios berdalih kenaikan harga untuk menutupi ongkos tenaga kuli panggul atau biaya penurunan pupuk dari truk ke kios.
“Naiknya harga pupuk subsidi di Kios Cahaya Tani milik Nanang ini sudah dua kali musim panen,” tambahnya.
Petani itu juga menyebut, pembelian pupuk subsidi selalu menggunakan kartu tani dan difoto bersama pupuk yang dibeli. Ia menuturkan, setiap kelompok tani memiliki warna kartu tani yang berbeda-beda ada yang berwarna kuning dan ada pula yang biru.
Ia termasuk anggota Kelompok Tani Sido Dadi Satu, yang diketuai oleh Nanang sendiri (pemilik Kios Cahaya Tani). Lahan kelompok tani tersebut berada di wilayah Blok Serut dan Blok Pring.
“Kadang saya beli 10 sak, bisa juga 2 sak. Ada yang atas nama saya sendiri, ada juga nama orang lain di E-RDKK karena saya juga nyewa sawah,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh petani yang membeli pupuk subsidi di kios tersebut dikenakan harga yang sama. “Saya tanya tetangga, harganya juga sama. Sekarang Rp120 ribu per sak, baik Urea maupun Phonska,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sido Dadi Satu, Nanang saat dikonfirmasi Minggu (12/10/2025) di kiosnya tidak berada di tempat, menurut istrinya, sedang keluar. Upaya konfirmasi melalui sambungan seluler yang dilakukan Media ini, juga tidak mendapat respons hingga berita ini diturunkan.
Pewarta : Zainal Arifin
Editor : Wahyudiono









