Fuad Akhsan, Jalan Sunyi di Balik Seragam Banser

oleh -3160 Dilihat
Company Logo

JEMBER, pelitaonline.id – Di balik barisan pasukan berseragam hijau yang kerap berdiri tegap dalam setiap kegiatan keagamaan Nahdlatul Ulama, ada satu sosok yang jarang disorot. Ia hadir tanpa banyak kata, bekerja dalam diam, dan memilih berada di barisan terdepan saat tugas dimulai, namanya Fuad Akhsan.

Di ruang lain, ia lebih dikenal sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jember, jabatan yang lekat dengan sorotan, protokoler, dan panggilan kehormatan. Namun, di tubuh Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Fuad memilih identitas yang berbeda: Komandan.

Ia menjabat Komandan Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser GP Ansor Kabupaten Jember, sebuah posisi yang menuntut disiplin, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk selalu hadir di garis tugas.

Bagi Fuad, politik hanyalah salah satu fase pengabdian. Sementara itu, Banser merupakan ruang batin yang ia rawat dengan penuh kesadaran. “Jabatan itu amanah duniawi. Khidmah di Ansor dan Banser adalah jalan batin.” ujar Fuad Akhsan

Fuad bukan kader yang lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren tua, Pondok Pesantren Al Amin, Sabrang, Ambulu, sebuah pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh Nahdlatul Ulama di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Dari ruang-ruang itulah ia mengenal makna khidmah, adab, dan kesetiaan kepada jam’iyah.

Di barisan Banser, Fuad tak membawa atribut kekuasaan. Tidak ada kursi empuk atau podium kehormatan. Yang ada hanyalah komando, disiplin, dan kesiapsiagaan mulai dari pengamanan pengajian, pengawalan kiai, hingga tugas-tugas sosial kemasyarakatan.

Company Logo

Ia tak pernah menyebut dirinya pejabat ketika mengenakan seragam Banser. Baginya, menjadi Wakil Ketua DPRD adalah jabatan yang bisa datang dan pergi. Namun, memikul amanah sebagai Kasatkorcab Banser Jember merupakan kehormatan yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.

“Di Banser, yang diuji bukan kepandaian berbicara, melainkan kesediaan untuk hadir dan siap.” kata Fuad Akhsan.

Pilihan Fuad menapaki dua dunia—politik dan khidmah bukan tanpa risiko. Ia menyadari bahwa irisan antara kekuasaan dan organisasi keagamaan kerap memantik kecurigaan publik. Namun, sikapnya tegas: Banser bukan alat politik, melainkan ladang pengabdian.

Khidmahnya di Ansor dan Banser ia maknai sebagai upaya ngalap berkah para masyaikh—berkah yang tidak dapat diukur dengan angka, apalagi jabatan. “Kalau ingin kekuasaan, cukup satu jalan,” ujar seorang koleganya. “Fuad memilih dua: jalan formal dan jalan batin.”

Di internal GP Ansor Jember, Fuad dikenal sebagai sosok yang tegas, tetapi rendah hati. Ia tak segan turun langsung ke lapangan, berdiri sejajar dengan anggota Banser lainnya, tanpa jarak, tanpa protokoler.

Barangkali di situlah letak perbedaannya. Ketika banyak orang mengejar panggilan “Yang Terhormat”, Fuad justru merasa lebih utuh saat dipanggil “Komandan”.

Di tengah riuh politik lokal dan dinamika kekuasaan, Fuad Akhsan tetap menjejakkan kaki di tanah yang sama: tanah khidmah. Seragam Banser yang ia kenakan bukan sekadar pakaian organisasi, melainkan pernyataan sikap bahwa kehormatan sejati tidak selalu lahir dari jabatan tinggi, melainkan dari kesetiaan pada jalan pengabdian.

No More Posts Available.

No more pages to load.