Jakarta,Pelitaonline.id – Kenaikan harga pupuk kembali menjadi keluhan para petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Utara. Di tengah turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit di sejumlah pabrik, biaya produksi justru meningkat akibat harga pupuk yang mengalami kenaikan signifikan pada Mei 2026.
Berdasarkan data rekap perkembangan harga TBS sawit pekebun tingkat produsen nonmitra periode Mei 2026, beberapa pabrik kelapa sawit di Bengkulu Utara mulai menurunkan harga pembelian sawit dari petani.
Di PT Agricinal, harga TBS sawit turun dari Rp3.200 menjadi Rp3.140 per kilogram. Sementara PT Alno Agro Utama juga menyesuaikan harga dari Rp3.220 menjadi Rp3.140 per kilogram.
Seorang petani sawit asal Desa Gunung Selan, Kecamatan Arga Makmur, Asrin, mengatakan penurunan harga sawit memang tidak terlalu besar, namun tetap berdampak terhadap penghasilan petani karena biaya operasional kebun terus meningkat.
Menurutnya, kenaikan harga pupuk saat ini terjadi hampir di semua jenis pupuk yang umum digunakan petani sawit. Pupuk KCL yang sebelumnya dijual sekitar Rp420 ribu per karung kini naik menjadi Rp490 ribu per karung.
Selain itu, harga pupuk Phonska juga mengalami kenaikan dari Rp220 ribu menjadi Rp280 ribu per karung. Sementara pupuk Mutiara naik dari Rp850 ribu menjadi Rp900 ribu per karung.
Asrin menyebut kenaikan harga pupuk membuat biaya perawatan kebun sawit semakin berat. Petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga produktivitas tanaman, sementara harga jual hasil panen justru mengalami penurunan.
Para petani berharap harga tandan buah segar sawit dapat kembali stabil agar pendapatan mereka tidak terus menurun di tengah naiknya biaya produksi dan kebutuhan pokok.
Berikut daftar harga TBS kelapa sawit tingkat pabrik di Kabupaten Bengkulu Utara periode Jumat, 15 Mei 2026:









