“Kalau tidak begitu bisa gagal panen, karena padi habis di makan burung, kemarin ada yang hanya di jual jeraminya saja, satu petak sawah dihargai 100 ribu rupiah, biasanya normalnya panennya mencapai 4 ton,” Tuturnya
Sekertaris Desa Rowotamtu Zainuri mengatakan tidak bisa berbuat banyak, kejadian serangan ribuan burung terhadap padi petani itu baru pertama kali terjadi dan bukan hanya desanya, di desa lainpun hal yang sama terjadi.
“Dulu sempat ada kejadian semacam ini, tapi dilakukan oleh tikus,sekarang berganti burung,” Ujarnya
Pria yang akrap dipanggil Nur ini mengungkapkan total tanaman padi ludes di Desa Rowotamtu sekitar 40 hetar, dari jumlah lahan tersebut ada sekitar 20 orang pemilik dan 500 penggarap sawah.
“Sekitar 500 penggarap sawah (Ngedok ; red Jawa), sementara yang sewa banyak, oleh karena itu untuk mengurangi kerugian lebih banyak para penggarap sawah memanen padinya lebih awal.” Katanya
Nur menerangkan, hasil penjualan padi sisa yang dimakan burung kwalitas menurun sehingga harganya pun juga anjlok, biasanya kalau normal perkwintal 450 ribu rupiah, tetapi sekarang hanya 250 ribu rupiah sampai 300 ribu rupiah.











