Jejak Naga Penjaga Laut Selatan, Legenda Watu Ulo di Pesisir Jember

oleh -682 Dilihat
Keterangan Foto : Batu Berbentuk Tubuh Ular Legenda Pantai Ulo (Yudi)
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Deru ombak di Pantai Watu Ulo, Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, tak hanya membawa aroma laut dan pasir basah. Di balik tebing batu yang meliuk seperti sisik ular raksasa, tersimpan kisah tua tentang sosok naga yang diyakini menjadi asal mula nama “Watu Ulo.”

Ansori, penjaga pantai selatan Watu Ulo yang telah puluhan tahun mengabdikan diri menjaga situs tersebut, menuturkan bahwa legenda tentang naga ini telah hidup turun-temurun di masyarakat pesisir selatan Jember. Bagi warga, kisah itu bukan sekadar dongeng, melainkan warisan spiritual dan sejarah alam yang sarat makna.

“Menurut orang tua dulu, Konon, dulu di tempat ini hidup seekor Nogo Rojo (naga besar) yang datang dari lautan selatan. Ia naik ke daratan dan beristirahat di tepi pantai. Entah karena apa, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi batu. Itulah yang kini disebut Watu Ulo,” ujar Ansori.

Menurut kisah turun-temurun, tubuh Nogo Rojo terpisah menjadi tiga bagian. Kepalanya terlempar ke daerah Pantai Grajagan di Banyuwangi, bagian tubuhnya berada di Pantai Watu Ulo Jember, sedangkan ekornya dipercaya berada di wilayah Pacitan.

Bagi Ansori, sosok naga dalam legenda Watu Ulo bukan sekadar makhluk mitologis, tetapi wujud gaib yang menjaga keseimbangan antara darat dan laut. Dalam kepercayaan masyarakat lokal, naga itu adalah jelmaan pengikut Penguasa Laut Selatan yang ditugaskan menjaga batas antara dunia manusia dan dunia alam.

“Ia bukan hewan biasa, tapi juga bukan sekadar simbol. Ia jelmaan makhluk gaib yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Kalau laut marah, katanya itu tanda sang naga bergerak,” jelasnya.

Kini, legenda itu tak hanya hidup di cerita rakyat, melainkan juga menjadi identitas budaya dan daya tarik wisata Kabupaten Jember. Setiap tahun, masyarakat menggelar Upacara Larung Sesaji di Pantai Watu Ulo sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga laut dan simbol keseimbangan alam.

Company Logo

“Kita tidak menyembah naga, tapi menghormati maknanya. Ia simbol alam yang harus dijaga. Kalau manusia serakah, laut bisa murka,” pesan Ansori.

Sebagai penjaga pantai selama 26 tahun, Ansori mengaku bukan juru kunci, melainkan relawan yang menjaga keamanan situs. Ia kerap mendapat firasat saat bahaya datang, terutama jika ada pengunjung yang nekat berenang di titik rawan.

“Selama saya menjaga di sini, tidak pernah ada kecelakaan besar. Entitas spiritual di Watu Ulo sudah berjanji melindungi pantai ini dari gelombang besar atau tsunami,” katanya meyakinkan.

Ansori juga meyakini bahwa Watu Ulo dapat bergoyang jika yang melihat oleh orang yang memiliki kelebihan batin. Selain itu, di kawasan tersebut terdapat sebuah sumur tua yang disebut sebagai pintu menuju keraton Nyi Roro Kidul. Ia bahkan mengaku pernah melihat bangunan batu yang tertata rapi di lokasi itu pada tahun 1999.

Siti, selaku koordinator kawasan wisata Watu Ulo, menuturkan bahwa mitos lama seperti larangan mengenakan pakaian berwarna merah atau hijau kini mulai ditinggalkan. Banyak pengunjung datang dengan pakaian berwarna apa pun tanpa mengalami hal mistis.

“Itu dulu hanya mitos. Sekarang masyarakat lebih terbuka, datang ke sini untuk menikmati keindahan alam, bukan takut pada pantangan,” ujarnya.

Menurutnya, batu panjang yang membentang dari selatan ke utara itu dulunya tampak jelas hingga ke area jalan. Namun kini sebagian tertutup pasir akibat terpaan angin dan ombak sejak puluhan tahun lalu.

Sementara itu, Yayuk Yohanes, pengunjung asal Dusun Karang Anyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, mengaku sering datang bersama suaminya, Eko, untuk menikmati suasana laut di Watu Ulo. “Sebulan bisa dua sampai tiga kali ke sini. Panorama alamnya indah dan suasananya menenangkan,” katanya sambil tersenyum.

Bagi masyarakat Sumberrejo dan Ambulu, batu yang meliuk di pesisir itu bukan sekadar batu, melainkan jejak kepercayaan yang menghubungkan manusia, alam, dan dunia gaib. Legenda Nogo Rojo menjadi warisan lisan yang terus dijaga oleh para sesepuh pantai selatan.

Pewarta : Wahyudiono

No More Posts Available.

No more pages to load.