Unggahan Bukan untuk Mencari Simpati
Bu Ijah menegaskan bahwa video yang dibuatnya bukan untuk mencari belas kasihan ataupun sensasi.
Menurutnya, unggahan tersebut hanya bertujuan memperlihatkan kondisi yang masih dialami sebagian guru honorer di Indonesia.
“Bukan pamer ya, hanya sekadar mengungkap fakta,” ujarnya.
Pernyataan itu mendapat simpati luas dari masyarakat yang menilai dedikasi Bu Ijah sangat besar meski selama puluhan tahun menerima penghasilan yang minim.
Warganet Soroti Nasib Guru Honorer
Keputusan Bu Ijah mengakhiri masa pengabdiannya memicu kembali perbincangan mengenai kesejahteraan guru honorer.
Banyak warganet memberikan apresiasi atas dedikasinya sekaligus berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap nasib para tenaga pendidik honorer.
Salah satu warganet menulis:
“40 tahun mengabdi, artinya beliau tidak pernah diprioritaskan untuk diangkat menjadi ASN. Luar biasa pengabdiannya. Semoga Ibu selalu sehat dan diberi rezeki yang berlimpah.”
Komentar lainnya menyebut profesi guru sebagai pekerjaan mulia.
“Guru itu pekerjaan mulia. Memilih jadi guru honorer harus siap mengabdi dengan gaji kecil, tetapi itu menjadi amal yang besar.”
Sementara warganet lain berharap kisah Bu Ijah menjadi perhatian pemerintah.
“Beliau sudah mencerdaskan anak bangsa selama puluhan tahun. Semoga kesejahteraan guru honorer semakin diperhatikan.”






