KPI Cabang Jember Gaungkan Perempuan sebagai Penggerak Kehidupan

oleh -1502 Dilihat
oplus_2
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Peringatan Hari Kartini 2026 di Kabupaten Jember tidak berhenti pada seremoni. Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jember justru menggunakannya sebagai ruang refleksi untuk membaca ulang perjalanan panjang perempuan sekaligus menegaskan peran mereka dalam kehidupan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.

Melalui kegiatan bertajuk “Perempuan Bergerak Merawat Kehidupan” yang digelar di sekretariat KPI Jember, Jalan S. Parman, Kecamatan Sumbersari, Rabu (29/4/2026), puluhan perempuan hadir mengenakan kebaya. Busana tradisional itu bukan sekadar simbol, melainkan penegasan identitas dan penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini yang relevansinya terus diperdebatkan hingga hari ini.

Di tengah suasana reflektif, kegiatan ini juga menghadirkan layanan konkret. Pemeriksaan kesehatan gratis mulai dari cek tekanan darah, gula darah, hingga asam urat difasilitasi oleh RSU Kaliwates. Di sisi lain, bazar jajanan tradisional dan produk UMKM menjadi penanda bahwa peran ekonomi perempuan tidak bisa dipisahkan dari denyut kehidupan masyarakat.

Sekretaris KPI Cabang Jember, Dewi Eliana, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak dimaknai secara dangkal. Menurutnya, momentum ini justru menjadi ruang untuk menilai sejauh mana perjuangan perempuan telah membawa perubahan.

“Hari Kartini bukan sekadar peringatan historis, tetapi ruang refleksi bersama tentang perjalanan perempuan dalam memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Semangat Kartini hari ini tidak hanya soal akses pendidikan, tetapi juga keberanian berpikir, bersuara, dan bergerak menghadirkan perubahan,” ujar Dewi.

Ia melihat, tema yang diangkat KPI Jember menyoroti kerja-kerja perempuan yang sering kali tidak terlihat. Padahal, kontribusi tersebut berlangsung terus-menerus di berbagai lini kehidupan.

Company Logo

“Perempuan tidak pernah diam. Di rumah, komunitas, ruang kerja, hingga situasi krisis, perempuan selalu hadir merawat kehidupan. Namun, kerja-kerja ini sering tidak terlihat, tidak terhitung, bahkan tidak diakui,” katanya.

Realitas di lapangan, lanjut Dewi, menunjukkan paradoks. Di satu sisi, perempuan di Jember berperan besar dalam sektor pertanian, UMKM, hingga kegiatan sosial di tingkat desa. Namun di sisi lain, mereka masih menghadapi tantangan serius, mulai dari kekerasan berbasis gender hingga keterbatasan akses terhadap sumber daya dan pengambilan keputusan.

Dalam konteks itu, ruang-ruang kolektif seperti yang digagas KPI dinilai penting untuk memperkuat jejaring dan solidaritas perempuan.

“Ruang seperti ini penting untuk memperkuat, menyambung, dan menggerakkan potensi perempuan agar bisa bersinergi demi kesejahteraan bersama,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Ely memaknai kegiatan ini sebagai upaya menjaga nyala semangat Kartini agar tidak redup oleh waktu. Ia menekankan bahwa capaian perempuan saat ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan emansipasi.

“Meski peringatan Hari Kartini telah lewat, semangatnya harus selalu ada. Tanpa perjuangan Kartini, tidak akan ada perempuan-perempuan hebat seperti saat ini dokter, kepala sekolah, pengacara, dan berbagai profesi lainnya,” ujarnya.

Ely juga mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti pada refleksi, melainkan bergerak bersama mendorong perubahan yang lebih konkret. “Sudah saatnya kita rapatkan barisan dan memberikan kontribusi nyata agar perempuan mendapatkan kehidupan yang lebih adil dan setara,” katanya.

Di Jember, peringatan Kartini kali ini memperlihatkan satu hal perjuangan perempuan tidak hanya dikenang, tetapi terus dirawat dalam kerja sunyi, solidaritas, dan aksi nyata yang menghidupi banyak orang. (Sgk)

No More Posts Available.

No more pages to load.