Oranye di Tengah Lumpur, Datang Tanpa Pamrih Saat Banjir Menyapu Jember

oleh -3142 Dilihat
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Di antara warna cokelat lumpur yang menguasai halaman rumah dan sisa genangan di sudut-sudut kampung, satu warna tampak mencolok, oranye. Bukan milik lembaga pemerintah, bukan pula satuan resmi negara. Seragam itu dikenakan para relawan Banser Tanggap Bencana (Bagana) dari Gerakan Pemuda Ansor Jember, pasukan sosial yang bergerak tanpa sorotan, tanpa honorarium, dan nyaris tanpa nama.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jember beberapa waktu terakhir bukan hanya menggenangi rumah dan jalanan. Ia juga menelanjangi kerentanan warga kecil,  dapur yang lumpuh, kasur yang terendam, sumur yang tercemar. Di tengah kepungan itulah, oranye-oranye itu datang.

Mereka bukan pegawai negeri. Mereka tidak tercatat dalam struktur resmi kebencanaan pemerintah. Namun, saat air meluap dan tangis pecah di ruang-ruang keluarga, Bagana hampir selalu ada di barisan awal.

Di Kecamatan Patrang, Rambipuji, Balung, Kaliwates, hingga Wuluhan, relawan Bagana menyusuri gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Mereka memanggul sekop, membawa karung, dan sesekali memanggul logistik. Tak ada kamera protokoler yang ada hanya bau lumpur, peluh, dan suara warga yang memanggil minta tolong.

“Seragam kami memang oranye, bukan seragam pemerintah. Tapi semangat kami untuk membantu warga tidak pernah setengah-setengah,” ujar Haris salah satu relawan Bagana, yang sejak pagi belum beranjak dari lokasi pembersihan sungai.

Bagi warga, kehadiran mereka bukan sekadar tambahan tenaga. Ia adalah penguat mental. Di Desa Nogosari, Rambipuji, seorang ibu lanjut usia duduk di kursi plastik yang masih basah. Matanya sembab. Di depannya, dua relawan Bagana mengangkat lemari kayu yang terbalik diterjang air. “Terima kasih sudah datang,” ucapnya lirih. Kalimat sederhana yang menjadi upah paling nyata bagi para relawan.

Bagana bekerja dalam diam. Mereka membersihkan rumah, menguras lumpur, mengangkat sampah dari aliran sungai yang dangkal akibat timbunan limbah. Saat dapur warga rusak dan tak bisa lagi mengepul, mereka membagikan nasi bungkus agar tak ada perut yang kosong di tengah krisis.

Company Logo

Tak ada proposal imbalan. Tak ada daftar penghargaan. Bahkan sering kali, nama mereka tak tercantum dalam laporan resmi. Namun mereka tetap datang. Tanpa jasa. Tanpa tuntutan.

Dalam beberapa hari terakhir, relawan Bagana terlihat berkolaborasi dengan pemerintah desa dan unsur TNI setempat. Mereka membaur, bekerja bersama, tanpa sekat. Yang dihadapi sama: lumpur dan kerusakan. Yang dikejar juga sama: pemulihan.

Di bantaran sungai yang penuh sampah, seorang relawan muda dengan wajah lelah berkata, “Kalau sungainya bersih, air tidak mudah meluap. Kalau rumah warga bersih, mereka bisa cepat bangkit.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menjadi gambaran cara pandang mereka bencana bukan hanya soal darurat, tapi juga tentang pencegahan dan ketahanan.

Di tengah situasi yang kerap membuat warga kehilangan harapan, kehadiran Bagana menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendiri. Seragam oranye itu menjadi penanda, ada yang peduli, ada yang rela mengorbankan waktu dan tenaga.

Banjir mungkin datang setiap musim penghujan. Tapi bagi warga Jember, ada satu hal yang juga selalu datang: relawan Bagana yang berdiri di tengah tangisan, mengulurkan tangan, dan bekerja hingga senja.

Mereka mungkin tak pernah meminta disebut. Namun di setiap rumah yang kembali bersih, di setiap sungai yang kembali mengalir dan di setiap senyum yang perlahan kembali merekah jejak oranye itu tertinggal kuat. Di Jember, saat air naik dan harapan nyaris tenggelam, Bagana memilih hadir. Dan sering kali, kehadiran itulah yang paling berarti. (Mam/Yud)

No More Posts Available.

No more pages to load.