Semangat Kartini Dinilai Relevan di Era Gen-Z, Rektor UIN Malang Soroti Lima Pilar Kesetaraan

oleh -3071 Dilihat
Company Logo

MALANG, Pelitaonline.ID – Nilai-nilai kesetaraan yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini dinilai masih relevan dan menemukan konteks baru di era generasi Z (Gen-Z), terutama di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nur Diana, mengatakan semangat Kartini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi terus hidup dalam isu-isu kontemporer seperti pendidikan, identitas, hingga keadilan sosial.

“Semangat Kartini hari ini tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dihidupkan kembali oleh generasi muda. Nilai kesetaraan yang beliau perjuangkan tetap relevan dalam berbagai aspek kehidupan,” kata Ilfi di Malang.

Ia menjelaskan, pada masa Kartini, perempuan menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan ruang berpikir. Namun, dari kondisi tersebut lahir gagasan penting tentang hak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan menentukan masa depan.

“Dari keterbatasan itu, Kartini menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berpikir dan berkembang,” ujarnya.

Ilfi kemudian memaparkan lima pilar kesetaraan yang dinilai relevan bagi Gen-Z saat ini, yakni akses pendidikan, kesetaraan identitas dan ekspresi diri, kesetaraan dalam ruang publik dan kepemimpinan, kesetaraan dalam relasi sosial, serta kesetaraan sebagai kesadaran kritis.

Menurut dia, pada aspek pendidikan, masih terdapat kesenjangan akibat faktor ekonomi, geografis, dan literasi digital. Karena itu, Gen-Z diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga agen perubahan.

Company Logo

Sementara pada aspek identitas, ia menilai Gen-Z memiliki keberanian dalam berekspresi, namun tetap perlu diimbangi dengan tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap keberagaman.

Ia juga menyoroti terbukanya ruang partisipasi publik melalui media sosial yang memungkinkan generasi muda lebih aktif dalam menyuarakan gagasan.

Selain itu, kesetaraan dalam relasi sosial dinilai penting untuk membangun hubungan yang adil di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga dunia kerja. Adapun kesetaraan sebagai kesadaran kritis diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh arus informasi yang masif.

Ilfi menambahkan, gagasan kesetaraan yang diperjuangkan Kartini tercermin dalam karya surat-suratnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.

“Kesetaraan bukan sekadar tuntutan sosial, tetapi panggilan kemanusiaan yang harus terus diperjuangkan,” katanya.

Ia juga menyinggung tantangan Gen-Z di era digital, terutama paradoks teknologi yang di satu sisi membuka peluang, namun di sisi lain memunculkan kesenjangan baru dan budaya instan.

Meski demikian, ia optimistis generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan untuk memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan melalui sikap inklusif, empati, dan integritas. (Warno)

No More Posts Available.

No more pages to load.