JAKARTA, Pelitaonline .ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, pernyataan keras kembali datang dari elite militer Iran. Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa Teheran tidak lagi menaruh kepercayaan terhadap jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut muncul saat sejumlah pihak, termasuk Pakistan, disebut tengah berupaya menjembatani kembali putaran pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat sebelum masa gencatan senjata yang dinilai rapuh berakhir dalam waktu dekat. Namun, bagi Iran, ruang diplomasi dengan Washington masih dipandang penuh kecurigaan.
“Mengikuti arahan Pemimpin Revolusi, kami tidak mempercayai negosiasi dengan Anda. Kami percaya pada kekuatan Tuhan, rakyat, dan para pejuang,” ujar Mousavi, mengutip pernyataan Mojtaba Khamenei, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
Tidak hanya menutup pintu diplomasi, Mousavi juga melontarkan peringatan terbuka terhadap setiap bentuk ancaman yang diarahkan kepada Iran. Ia menegaskan bahwa setiap respons dari Teheran akan bersifat tegas dan keras.
“Di mana pun Anda berada, kami akan merespons kapan pun kami mau,” katanya.
Pernyataan tersebut memperkuat narasi bahwa Iran kini berada dalam posisi yang lebih percaya diri secara militer maupun politik. Mousavi menyebut, negaranya tidak lagi berada dalam fase kerentanan, melainkan telah memasuki periode kesiapan penuh menghadapi segala kemungkinan eskalasi.
Ketegangan ini sendiri tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak akhir Februari, konflik antara Iran dengan blok yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel dilaporkan memasuki fase terbuka. Sejumlah serangan udara yang diklaim menargetkan pejabat dan komandan senior Iran disebut menjadi pemicu meningkatnya eskalasi di kawasan.
Di tengah situasi tersebut, upaya diplomasi yang masih berlangsung tampak berjalan di atas garis tipis: terus diupayakan, namun sekaligus diragukan efektivitasnya oleh salah satu pihak utama yang terlibat.
Pernyataan Mousavi sekaligus menjadi penegasan bahwa Iran kini lebih mengedepankan kekuatan internal dan kesiapan militer sebagai instrumen utama dalam menghadapi tekanan eksternal. Kondisi ini menandai bahwa ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, justru berpotensi memasuki babak baru yang lebih kompleks dan penuh ketidakpastian. (Roby)











