“Tidak ada sejarahnya kiai NU langsung main sikat pada kemaksiatan. Salah satu pendekatanya adalah meminta kepada Allah SWT agar pelakunya bertaubat dan mendapatkan rezeki yang halalan toyyiban,” kata Gus Ghulam, sapaannya, ketika menyampaikan sambutan. Apa yang dilakukan KH Syafawi, dia menambahkan, merupakan ciri khas dakwah NU yang lebih mengedepankan sisi spiritualitas dan humanisme. Bukan dengan cara-cara kekerasan. “Ini yang harus diketahui oleh generasi muda sekarang,” imbuhnya.
Sang penulis buku Rijal Mumazziq, mempunyai alasan sendiri menggali dan menulis sejarah tentang sang kakek, KH Syafawi. Motivasi pertama adalah agar dia dan keluarga tidak kehilangan cerita utama tentang ketokohan dan petuah-petuah kakeknya. Dan kedua ingin meramaikan konteks historiografi lokal.
Tokoh muda yang kini menjabat Rektor Inaifas Kencong itu menyampaikan, ada fenomena menarik tentang sejarah di Indonesia dalam kurun waktu dua puluh tahun terahir, tepatnya setelah reformasi. Yakni bangkitnya generasi muda NU untuk menulis sejarah tokoh lokal. Dibanding masa orde baru, sejarah lebih cenderung sentralistik dan mengisahkan tentang tokoh-tokoh besar saja, sementara tokoh lokal jarang disentuh.
“Padahal kontribusi para ulama baik yang mencapai level nasional maupun kiai kampung, atau pendiri pondok pesantren, sama-sama memainkan kontribusi yang besar dalam konteks sejarah yang ada di Indonesia,” ungkapnya. (*)








