Harga Cabe Mahal di Malang, Wali Kota Turun Tangan Bongkar Penyebabnya

oleh -3874 Dilihat
Company Logo

JEMBER, Pelitaonline.ID – Pagi itu, hamparan hijau di Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, tak sekadar menjadi ladang panen. Ia menjelma panggung bagi upaya menahan laju inflasi yang kerap melonjak lewat komoditas sederhana: cabai.

Wahyu Hidayat turun langsung ke kebun, Kamis (16/4/2026). Di antara deretan tanaman yang mulai memerah, ia ikut memanen cabai bersama petani setempat sebuah gestur simbolik yang sarat pesan ekonomi.

“Tanaman ini baru berusia sekitar empat bulan, tapi dalam setahun bisa panen hingga 15 kali,” ujarnya.

Di lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi itu, produktivitasnya tak bisa dianggap remeh. Sekali panen, hasilnya bisa mencapai 6 ton cabai. Angka yang, di atas kertas, cukup untuk membantu menahan tekanan pasokan di pasar Kota Malang.

Namun persoalan tidak berhenti pada produksi. Harga cabai, seperti yang kerap terjadi, masih memainkan ritme yang sulit ditebak. Di tingkat petani, harga berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

Namun,  ketika sampai ke tangan konsumen, angka itu bisa melonjak lebih dari dua kali lipat menembus Rp100 ribu per kilogram. “Kami melihat ada selisih harga yang cukup tinggi. Ini yang akan kami telusuri agar harga bisa lebih terkendali,” kata Wahyu.

Panen raya ini tak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, melibatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan unsur Forkopimda. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan rantai distribusi berjalan lebih efisien.

Company Logo

Di saat yang sama, pemerintah juga menguatkan sektor hulu. Sebanyak 12 kelompok tani menerima bantuan sarana produksi mulai dari traktor, hand sprayer, hingga mesin penggiling. Bantuan ini diharapkan tak hanya mempercepat kerja petani, tetapi juga meningkatkan hasil panen.

Langkah itu menggarisbawahi satu hal: Malang, meski berstatus kota, belum sepenuhnya melepaskan akar agrarisnya. “Tidak hanya cabai, kita juga masih punya padi dan jagung yang menopang kebutuhan bahan pokok,” ujar Wahyu. (Warno)

No More Posts Available.

No more pages to load.