JEMBER, Pelitaonline.ID – Suasana di Pendopo Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, tampak berbeda. Ratusan warga duduk menunggu giliran menerima Bantuan Pangan (Bapang) dari Pemerintah.
Cuaca Panas dan antrean sempat menghadirkan rasa lelah. Namun, di tengah situasi itu, hadir sosok Pak Lurah Hariyono yang membuat suasana menjadi hangat dan penuh keakraban.
Alih-alih menjaga jarak sebagai pejabat, Hariyono justru larut di tengah warganya. Ia berjalan menyusuri barisan penerima bantuan, menyapa warga dengan senyum ramah.
Terkadang, Ia duduk ditengah- tengah warga yang lebih tua, bercengkerama ringan tanpa sekat, seolah tak ada perbedaan antara pemimpin dan masyarakat.
“Yang sabar ya Bu, nanti dipanggil satu per satu, tunggu giliranya, sudah dikumpulkan kan kuponnya ?,” ucap Hariyono menenangkan warga dengan tersenyum dan nada bersahabat, Selasa (13/4/2026)
Tak hanya itu, Hariyono juga melemparkan candaan yang mengundang tawa. Suasana yang semula penuh penantian berubah menjadi lebih cair. Warga tampak menikmati momen tersebut, bahkan melupakan sejenak lamanya antrean.
Puncak keakraban itu terjadi saat waktu istirahat siang tiba. Ketika petugas berhenti sejenak untuk makan, Hariyono justru mengambil peran tak terduga. Ia berdiri di hadapan warga dan mulai bernyanyi melantunkan suara Khasnya.
Suaranya mengalun sederhana, namun cukup untuk mencairkan suasana. Warga pun terhibur. Tawa pecah di berbagai sudut lokasi. Beberapa ikut bertepuk tangan, sebagian lainnya mengabadikan momen tersebut.
Yang paling mencuri perhatian adalah ketika seorang warga lanjut usia, Bu Santo warga RT 3 RW 7 Lingkungan Jalan Sutoyo, ikut berjoget di sampingnya. Dengan penuh semangat, ia menari kecil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan sang lurah.
Momen tersebut sontak mengundang gelak tawa. Warga yang sebelumnya lelah menunggu kini larut dalam kegembiraan. Antrean panjang tak lagi terasa membebani.
“Senang sekali, Pak Lurahnya dekat sama rakyat. Jadi nggak terasa capek nunggu,” ujar Bu Santo dengan wajah sumringah.
Kehadiran Hariyono di tengah warga bukan sekadar formalitas. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan bisa hadir dengan sentuhan sederhana, menyapa, mendengar, dan menghibur.
Hari itu, bukan hanya bantuan yang dibawa pulang warga. Tetapi juga cerita hangat tentang seorang lurah yang memilih untuk berdiri sejajar, bukan di atas, bersama masyarakatnya. (Mam)









