“Alhamdulillah kopi kami sudah dikirim ke Eropa. Nilai scoring kopi kami sudah 84 lebih, itu sudah masuk specialty coffee dan ke depan ingin terus kami tingkatkan kualitasnya,” katanya.
Meski produksi kopi secara intensif baru berjalan sekitar dua tahun terakhir, pendampingan terhadap petani kopi di lereng Gunung Argopuro sebenarnya telah dilakukan lebih dari 10 tahun.
Pendampingan itu mencakup penggunaan bibit unggul, teknik budidaya, hingga pengolahan pascapanen. Salah satu fokus utama pendampingan adalah penerapan panen petik merah.
Menurut Totok, metode tersebut mampu meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual kopi dibanding panen campuran. “Kami dorong petani untuk panen petik merah karena harganya jelas lebih bagus,” ujarnya.
Selain produksi, Gapoktan Subur juga mengembangkan sektor pemasaran melalui kafe “PD Coffee”. Kafe tersebut menjadi sarana promosi sekaligus edukasi kopi lokal khas Jember kepada masyarakat.
Totok berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan kopi rakyat di Jember, khususnya bantuan alat pascapanen seperti huller, pulper, mesin roasting, dan grinder guna mendukung produksi skala rumah tangga.
“Petani kopi di Jember masih banyak yang membutuhkan perhatian, terutama untuk pengembangan produksi skala home industry,” katanya.
Ia juga ingin memperkuat identitas kopi asal Darsono dan kawasan timur lereng Gunung Argopuro agar memiliki branding khas yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.









