Kopi Lereng Argopuro Tembus Eropa, Stan Gapoktan Subur Jadi Buruan Pengunjung Pameran

oleh -1357 Dilihat
Company Logo

“Mulai dari Panti sampai Jelbuk itu karakter tanah dan lerengnya hampir sama. Insya Allah kualitas kopinya juga bagus,” tuturnya.

Menurut Totok, tantangan terbesar yang masih dihadapi kelompok tani kopi saat ini adalah keterbatasan modal untuk pengembangan alat dan pengolahan pascapanen.

“Permodalan memang tantangan klasik, tapi kami tidak menyerah untuk terus mengembangkan kualitas kopi petani,” pungkasnya.

Sementara itu, Mohammad Sifak Amin dari Politeknik Negeri Jember menjelaskan, kopi Arabika yang dikembangkan petani ditanam di ketinggian 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan kopi Robusta dibudidayakan di wilayah berketinggian 400 sampai 800 mdpl.

Menurutnya, petani menerapkan dua metode pengolahan kopi, yakni pengolahan kering dan basah. Pada metode kering digunakan teknik natural dan honey, sedangkan metode basah menggunakan full wash dan semi wash, termasuk fermentasi wine untuk menghasilkan karakter rasa khas.

“Saat ini luas lahan kopi milik petani binaan Gapoktan Subur mencapai sekitar 200 hektare. Sekitar 70 hektare berada di Desa Darsono, sedangkan sisanya tersebar di sejumlah wilayah lereng Gunung Argopuro seperti Desa Panduman, Kemuning Lor, Desa Kamal, hingga kawasan perhutanan sosial,” jelasnya.

Diketahui, Gapoktan Subur juga mendapat dukungan dari 13 mahasiswa magang asal Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan yang turut mempelajari proses budidaya hingga pengolahan kopi di Kabupaten Jember. (Mam)

Company Logo

No More Posts Available.

No more pages to load.