JEMBER, Pelitaonline.ID – Cerita ini bermula dari pengakuan seorang pria bernama Sugi, yang menceritakan pengalaman nyatanya saat menemani seorang teman lamanya, sebut saja Parjo.
Parjo bukan orang sembarangan. Dari luar, hidupnya terlihat sukses. Ia memiliki usaha penggilingan padi yang berkembang, relasi bisnis luas, bahkan sempat merasakan hidup mapan. Tapi saat kembali bertemu dengan Sugi, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Suatu sore, Parjo berkata jujur.
“Gue pernah pesugihan… dan sekarang semuanya mulai turun.”
Ia mengaku dulu sempat kaya karena jalan tersebut, tapi setelah berhenti, usahanya merosot. Kini ia ingin mengulanginya lagi, karena ada peluang bisnis besar yang butuh modal cepat.
Sugi awalnya menolak terlibat, tapi akhirnya hanya bersedia menemani, tanpa ikut masuk lebih jauh.
Mereka berangkat ke sebuah desa di daerah Lumajang. Di sana, mereka bertemu seorang pria tua yang dikenal bisa “membantu” ritual pesugihan. Orang itu hidup sederhana, bahkan disebut tidak makan nasi selama bertahun-tahun, hanya mengonsumsi hasil alam.
Sebelum ritual dilakukan, Parjo diperingatkan:
“Kalau sudah mulai, tidak bisa berhenti.”
Namun Parjo tetap yakin.
Beberapa hari kemudian, tepat di hari yang ditentukan, mereka kembali membawa berbagai syarat: ayam cemani jantan, ayam bangkok, ayam kampung, beras merah, beras putih, ketan hitam, dan perlengkapan lainnya.
Ritual dimulai di sebuah lokasi tersembunyi dekat air terjun kecil. Tempatnya tidak terlalu jauh dari area wisata, tapi jalurnya berbeda, lebih sepi dan sunyi.
Saat prosesi berlangsung, Sugi mengaku melihat sesuatu.
Dari balik air terjun, muncul sosok perempuan. Cantik, mengenakan kebaya, dengan hiasan seperti mahkota kecil di kepalanya. Sosok itu tidak sepenuhnya jelas, tapi cukup nyata untuk membuatnya terdiam.
Ritual terus berjalan.







