Di Indonesia, Bank Indonesia mengambil langkah intervensi dengan menjual dolar AS dan membeli rupiah guna menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, sejumlah bank sentral juga menaikkan suku bunga demi menahan tekanan terhadap mata uang domestik.
Namun, kenaikan suku bunga juga memiliki konsekuensi lain, seperti cicilan kredit rumah dan pinjaman yang menjadi lebih mahal bagi masyarakat.
Ada Negara yang Justru Diuntungkan
Meski banyak negara terdampak negatif, beberapa negara pengekspor energi justru memperoleh keuntungan dari naiknya harga minyak dunia. Brasil dan Malaysia menjadi contoh negara yang mendapat dorongan ekonomi dari meningkatnya pendapatan ekspor energi.
Investor global bahkan mulai melirik obligasi dan saham perusahaan di Brasil karena dinilai lebih menguntungkan di tengah situasi global yang tidak pasti.
Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa kenaikan harga energi tetap bisa memicu inflasi domestik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Yuan China dan Rubel Rusia Tetap Tangguh
Di tengah gejolak global, mata uang China dan Rusia relatif lebih stabil. Yuan China tetap terkendali karena adanya kontrol ketat pemerintah terhadap arus modal dan intervensi bank sentral.
Sementara itu, rubel Rusia justru menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik sejak konflik pecah. Hal itu didukung oleh tingginya pendapatan energi Rusia serta kebijakan kontrol devisa yang ketat.
Mata Uang Negara Maju Juga Berfluktuasi
Gejolak perang juga mempengaruhi mata uang negara maju. Dolar AS dan franc Swiss sempat menguat karena dianggap sebagai aset aman oleh investor.









