JEMBER, Pelitaonline.ID – Di tepian Afur Kulon di wilayah Dusun Krajan 2 Desa Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, pemandangan yang mestinya teduh oleh aliran air, kini ternodai oleh tumpukan sampah.
Sampah yang menumpuk dilokasi tersebut bervariasi, mulai Plastik, sisa rumah tangga, hingga material bekas menimbun bantaran, sehingga menciptakan aroma menyengat yang menusuk hidung setiap kali angin berhembus.
Bagi warga sekitar, keberadaan sampah itu bukan sekadar soal estetika, mereka resah, sebab Afur Kulon selama ini menjadi tumpuan utama pengairan sawah dan yang terpenting membuat Kumuh lingkungan dan adanya potensi penyakit.
Melik, warga RT 001 RW 023, menuturkan betapa terganggunya ia dengan kondisi tersebut. “Kalau tertiup angin, baunya menyengat sekali. Kami tidak setuju. Kalau selalu dibersihkan, tidak masalah,” keluhnya.
Sementara, Nimin, warga lain yang tinggal tepat di selatan lokasi sampah, menambahkan bahwa persoalan ini tidak murni ulah warga setempat. “Kalau hanya diberi tulisan larangan, ya tidak dihiraukan. Orang sini tidak ada yang buang, tapi justru orang luar,” ujarnya.
Kedua suara warga itu menggambarkan keresahan kolektif, sampah bukan hanya soal kotoran, melainkan juga tentang bagaimana ruang hidup mereka terancam.
Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Kencong Kabupaten Jember, Umar Basar, mengakui kekhawatiran warga. Ia menegaskan bahwa keberadaan sampah dapat menimbulkan dampak serius pada kelancaran distribusi air.
“Sangat mengganggu dan banyak komplain dari warga. Pembuatan bak sampah oleh desa itu tanpa sepengetahuan SDA atau izin resmi. Padahal, itu area Afur,” jelasnya, Selasa (10/9/2025).
Menurut Basar, jika sampah dibiarkan menumpuk, pendangkalan akan terjadi dan aliran air ke sawah bisa tersendat. “Dengan kondisi seperti ini, dapat merugikan petani,” katanya.
Lebih jauh, Basar menekankan bahwa solusi persoalan sampah tidak hanya bergantung pada langkah teknis dari pemerintah desa maupun instansi terkait. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan saluran pengairan sebagai tempat pembuangan sampah. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk menjaga fungsi irigasi,” tegasnya.
Sampah yang menumpuk di bantaran Afur Kulon seolah menjadi alarm bagi semua pihak. Bagi warga, ini bukan sekadar tentang lingkungan yang kumuh, tetapi juga soal masa depan pertanian mereka.
Hingga kini, mereka masih menanti langkah konkret dari pemerintah daerah untuk segera melakukan penanganan.
Sementara itu, bau tak sedap dan tumpukan plastik masih setia menyambut siapa pun yang melintas.
Warga berharap, keresahan ini segera berakhir, dan aliran Afur Kulon kembali jernih mengalir sebagai nadi pengairan lahan pertanian di Desa/Kecamatan Jombang.
Pewarta : Zainal Arifin
Editor : Wahyudiono









